0821-3251-8980 talithakum.indonesia@gmail.com

Latar Belakang

cerita dibalik terbentuknya CWTC-IBSI

CWCT (Counter Women Trafficking  Commission) ini disahkan oleh IBSI (Ikatan Biarawati Seluruh Indonesia) pada bulan Agustus tahun 2008 di Rumah Retret Sangkalputung Klaten, pada sidang rutin tiga tahunan IBSI. Sebelum itu IBSI mendapat undangan dari UISG (International Union of  Superiors General) untuk menghadiri kongres ANTI PERDAGANGAN PEREMPUAN di Manila bagi para biarawati dari Asia dan Australia. Sr. Stefani SSpS sebagai ketua IBSI saat itu mengutus Sr. Antonie PMY untuk menghadirinya. Kini Sr. Antonie berdomisili di Nederland sebagai superior general. Beliau juga yang hadir dalam pertemuan Talitha Kum Internasional di Roma, yang atas kehendak Tuhan lewat Bapa Suci Benedictus XVI agar para religius perempuan memperhatikan para buruh migrant. Pada pertemuan tingkat Asia di Philipine, IOM (Internasional Organisation for Migration)  memaparkan fakta korban perdagangan orang di seluruh dunia. Perdagangan orang itu terjadi pada buruh migran dalam perjalanan mereka ke negara tujuan. Oknum penyalur tenaga kerja di Indonesia maupun  mata rantainya di luar negeri mempekerjakan korban TIDAK SESUAI DENGAN JANJINYA. Misalnya:  mereka dijanjikan untuk bekerja sebagai PRT atau PERAWAT ORANG JOMPO, pada kenyataannya di negara tujuan mereka dipaksa bekerja sebagai PSK. Jumlah korban asal Indonesia menempati urutan kedua setelah Filipina. Namun korban dari Filipina dapat membela dirinya karena menguasai bahasa Inggris, sementara korban dari Indonesia tidak dapat membela dirinya karena keterbatasan bahasa. Para korban asal Indonesia tersebar di berbagai negara terutama di Malaysia, Arab, dan negara Timur Tengah lainnya. Mereka mengalami berbagai kekerasan, antara lain  pemaksaan menjadi PSK (Pekerja Seks Komersial) dan bintang film porno. Salah satu suster peserta dari Taiwan yang aktif membantu korban di negaranya dengan amat kritis bertanya: mengapa  belum ada gerakan dari biarawati di Indonesia untuk membantu para korban perdagangan manusia ? Di Taiwan ada banyak korban asal Indonesia, dan tidak ada yang menolong bahkan mengunjungi mereka di penjara pun tidak!? Sr. Antonie tersentak kaget dan merasa dirinya terpanggil untuk menyampaikan hal itu kepada IBSI untuk peduli pada kasus perdagangan manusia.

 Cikal Bakal CWTC

Perdagangan manusia menjadi topik dalam sidang tiga tahunan IBSI, namun sepertinya hal ini sangat menakutkan para suster di IBSI sebab bekerja diranah ini sangat berat dan berbahaya sehingga saat ditawarkan kepada para peserta sidang, tarekat yang mau terlibat dari puluhan tarekat perempuan di Indonesia, hanya 5 tarekat yang siap melibatkan diri untuk bekerja bergabung dengan para religius perempuan seluruh dunia, yaitu tarekat PMY, SSpS, MC, RGS dan PK. Berawal dari kesiapsediaan 5 tarekat tersebut adalah cikal bakal CWTC-IBSI yang pada bulan Agustus 2018 genap berumur 10 tahun di Indonesia.

Apa yang telah dilakukan oleh PARA suster perwakilan 5 tarekat TERSEBUT ?

Bermodalkan iman (karena serba kekurangan dalam hal dana), aktivitas pertama yang dapat dilakukan  adalah mengadakan sosialisasi tentang perdagangan orang kepada para religius perempuan yang digabungkan dengan program IBSI lainnya  di bidang pembinaan religius/formation, terutama untuk daerah NTT. Sr. Antonie PMY, Sr. Veronica MC dan Sr. Stefani SSPS yang pada waktu itu bertanggungjawab sebagai provinsial kongregasi masing-masing dan sekaligus pengurus IBSI, dipenuhi dan didorong oleh roh kudus dengan gigih memikirkan bagaimana menyebarkan “ragi ” agar para religius perempuan Indonesia terbuka mata dan hatinya, tersentuh oleh derita dan perjuangan para perempuan untuk mempertahankan hidup demi sesuap nasi, dan berusaha meningkatkan kondisi sosial ekonomi keluarganya. Fakta yang terlihat dalam kehidupan sosial adalah banyak korban berjatuhan, mereka direndahkan martabatnya, kebebasan mereka dirampas, diperlakukan seperti budak, atau barang atau binatang yang bisa diperlakukan seturut kemauan majikan. CWTC-IBSI telah menjadi anggota jaringan Internasional yang tergabung  dalam TALITHA KHUM dibawah naungan UISG sehingga hampir tiap tahun selalu ada undangan untuk ikut hadir dalam pertemuan-pertemuan  penguatan jaringan dan penyegaran agar bersemangat dalam berkarya. Pada awalnya

pertemuan dihadiri para provinsial yang saat itu sedang ada aktivitas  di Roma, sehingga  tidak mengeluarkan biaya. Atas kegigihan 3 Srikandi pendiri CWTC-IBSI, program CWTC-IBSI mendapat dukungan dana dari MM (Mensen  met  enn Missie) dari Belanda dan juga beberapa sahabat PMY yang ada di Belanda. Sejak saat itu penyebaran “Ragi” dapat mulai bekerja dengan lebih tertib, terprogram dan lancar. Hal pertama yang  dilakukan pengurus CWTC-IBSI adalah  mengadakan sosialisasi “Apa itu Perdagangan orang dan lika-liku mata rantai terjadinya perdagangan orang” untuk para religius perempuan diberbagai Keuskupan, dengan tujuan agar sosialisasi ini juga diteruskan kepada anggota komunitas religius setiap tarekat, para karyawan, melalui berbagai karya tarekat: asrama, pendidikan, kesehatan, sosial maupun pastoral dan juga melibatkan para suster di pusat-pusat pastoral keuskupan, paroki, stasi, lingkungan maupun kelompok-kelompok kategorial maupun teritorial dimana para suster berada dan berkarya.

Dimana saja CWTC-IBSI ini sudah diutus menyebarkan “ragi”?

Mereka secara aktif menyebar ke Lampung, Palembang, Padang, Batam (Pangkal Pinang) , Pematang Siantar, Jakarta, Bandung, Bogor, Purwokerto, Semarang, Surabaya, Malang, Jayapura, Merauke, Agat Asmat, Timika dan NTT (Flores, Atambua,  dan Sumba). Selain bersosialisasi menyebarkan ragi, lima tarekat perempuan (PMY, MC, SSPS, PK dan RGS) juga menampung korban yang membutuhkan tempat aman. Siapakah trafficker mereka?  BISA JADI orang tua, paman, tante, pacar dan orang-orang yang sudah dikenal, bukan orang asing. Hal ini dapat terjadi karena minimnya pengetahuan, mereka tidak menyadari sedang menjadi korban perdagangan manusia. Mereka dikira bermaksud memberi peluang pekerjaan, namun ternyata dalam perjalanan selanjutnya terjadi pembelokan ke arah yang negatif. Maka dalam hal ini kita harus sungguh-sungguh cermat sejak awal. Dalam perjalanan waktu  terbentuknya CWTC-IBSI Tahun 2008 – 2018,  selain para pengurus yang telah terbentuk sejak awal,  mereka diperkuat  lagi dengan tambahan pendukung  kongregasi berikutnya yaitu: kongergasi SPM dan FSGM.

CWTC 2014-2018

  •  Selain  mengadakan sosialisasi, CWTC-IBSI juga fokus pada kerja sama jaringan, baik jaringan  dengan  religius alumni training yang diadakan oleh CWTC-IBSI, maupun jaringan dengan pemerintah, NGO dan juga Lembaga Gereja seperti KKP-PMP-KWI, SGPP- KWI , KARINA Indonesia, dan FSE-KWI.

 Kerjasama dan berjejaring  telah membuka cakrawala baru, sebenarnya banyak hal dapat kita lakukan bersama sebagai misi  Gereja. Koalisi yang telah dibangun oleh CWTC-IBSI antara lain Koalisi Peduli NTT, dengan basis para aktivis religius laki-laki dan perempuan yang berada di garis-garis rawan seperti Batam, Medan, Jakarta, Lampung, Kupang, Surabaya dan teman-teman dari Keuskupan Ende, dan juga Koalisi WGTIP (Work Group Trafficking In Person) yang di pelopori oleh Vivat Indonesia. Semakin luas jangkauannya, kita juga

  • bekerjasama dengan Kementerian Tenaga Kerja,  JPM (Jaringan Peduli Migrant  KAJ), Migrant Care, JPIC FMM, JPIC-FSGM,  JPIC- OFM  dan lain-lainnya.
  • Koalisi Jaringan yang terbaru terbentuk di Labuan Bajo dalam pertemuan “Meniti Harapan Pada Negeri Cincin Api”. Mengapa demikian? Karena Indonesia memiliki gunung berapi di setiap pulau, sering meletus, gempa bumi, tanah longsor, bahkan tsunami. Ditempat ini hadir lembaga-lembaga Mitra MM, perwakilan NGO Internasional seperti ILO, IOM, Migrant Care dan lembaga-lembaga yang peduli buruh migrant, perwakilan interfaith, Wartawan maupun Pemerintah Regional NTT. Semua merasa sakit, sedih, menangis saat menghitung  ada 9 peti jenazah setiap bulannya dikirim dari Malaysia menuju Kupang. Para peserta sepakat mau kerja keras saling bahu membahu 5 tahun  kedepan bermimpi bisa terwujud  ZERO TRAFFICKING di bumi Indonesia tercinta
  •  Sesudah pertemuan di Labuan Bajo, CWTC-IBSI melanjutkan pertemuan staff, yang dihadiri oleh perwakilan dari tarekat PMY, MC, SSpS, PK, SPM, RGS, BKK , FSGM dan SND hadir sebagai Ketua  dan penghubung IBSI, didampingi oleh Sr. M. Stefani SSpS dan dibimbing oleh Romo Beni Yuliawan SJ, melihat  dan merefleksikan kembali apa yang telah dilakukan CWTC  selama 10 tahun ini dan perkembangannya, serta merumuskan Visi dan Misi yang baru tanpa meninggalkan Visi dan Misi yang lama.

perubahan nama menjadi talitha kum indonesia

Latar belakang perubahan nama CWTC-IBSI didorong atas usulan Talitha Kum Internasional untuk mengubah nama karena negara-negara lain kesulitan menyebutkan nama CWTC-IBSI, dan juga supaya ada keseragaman nama dengan Talitha Kum Internasional serta memudahkan urusan pelaporan dan koordinasi. Para pengurus CWTC mempertimbangkan masukan tersebut, kemudian pada pertemuan pada bulan Mei di Wonosobo memutuskan untuk mengajukan perubahan nama Talitha Kum Indonesia kepada IBSI. Pada saat Laporan Pertanggungjawaban CWTC kepada IBSI dalam sidang tengah tahun IBSI 2019, CWTC mengajukan nama Talitha Kum Indonesia. Perubahan nama tersebut kemudian diterima dan disahkan dalam sidang IBSI di Griya Pasanggrahan, Semarang pada 27 Agustus 2019. Dengan demikian, secara sah sejak 27 Agustus 2019 CWTC-IBSI menjadi TALITHA KUM INDONESIA.

Talitha Kum Indonesia, Komunitas Anti Human Trafficking, #DuniaBebasPedaganganOrang