0821-3251-8980 talithakum.indonesia@gmail.com

Narasi Temu Jaringan Medan

Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) bukan hal yang baru di Indonesia. Medan merupakan salah satu ibukota provinsi di Indonesia yang besar dan banyak dikunjungi orang dari berbagai penjuru negeri. Berawal dari keprihatinan bahwa Jaringan untuk TPPO di Keuskupan Agung Medan belum terbentuk, sementara IBSI sudah selalu meminta untuk dibentuknya jaringan, maka pada akhirnya dicoba dibentuk panitia kecil yaitu P. Hilarius Kemit OFM. Cap dan Sr. Raynelda SFD. Ruang lingkup kegiatan ini pada awalnya hanya Keuskupan Agung Medan, tetapi karena beberapa pimpinan mengetahui kegiatan ini, maka akhirnya dibuka juga kesempatan bagi peserta di luar Keuskupan Agung Medan. kegiatan ini dilaksanakan di Rumah retret Cinta Alam pada 03-05 November 2019 dan diikuti 26 peserta yang berasal dari Medan, Sibolga, dan Makassar.

Kegiatan ini diharapkan akan menjadi cikal bakal terbentuknya wadah bagi religius laki-laki dan perempuan dan mitra solid untuk beraktivitas bersama membangun kesadaran Jaringan Peduli Migrant Perantau di Keuskupan Sibolga, Medan, dan Makassar.

Kami berharap setelah beberapa hal setelah kegiatan ini selesai, yakni:

  1. Para peserta tergerak untuk mensosialisasikan lika-liku dan kejahatan Perdagangan Orang ke berbagai komunitas ( remaja, orang muda, orang tua, kelompok profesi dll )
  2. Para peserta membangun kerjasama dengan berbagai pihak untuk mengatasi masalah perdagangan manusia ( intern Gereja, Masyarakat, NGO, Pemerintah )
  3. Para peserta mengadakan waktu untuk terlibat  aktif  mengatasi persoalan trafficking.

Dari hasil diskusi kelompok dalam kegiatan ini, kami mengetahui beberapa fenomena perdagangan orang di Medan. fenomena tersebut antara lain:

  1. Di rekrut  oleh calo untuk dibawa ke Malaysia bekerja di berbagai sektor
  2. Direkrut untuk bekerja di kafe-kafe kota Medan
  3. Rekruitmen remaja putri oleh pihak hotel-hotel atas pesanan hidung belang

Faktor – faktor terjadinya perdagangan orang terutama adalah kemiskinan dan keinginan ingin hidup bahagia dan kaya secara instan. Beberapa masalah yang ditemukan di Kota Medan antara lain:

  1. Banyaknya migran karena ingin keluar dari desanya
  2. Kemiskinan dan pendidikan yang rendah sehingga anak-anak mudah tergiur untuk keluar dari desanya
  3. Banyak anak-anak dipekerjakan di prostitusi
  4. Ada korban trafficking yang mengalami kekerasan fisik dan mental
  5. Banyak anak-anak dari Nias yang migran ke Medan dan sekitarnya
  6. Masalah adat yang membuat anak perempuan lari dari kampung halaman “orang tua memaksa anak perempuan menikah, karena belis yang mahal”
  7. Mempekerjakan perempuan di tempat prostitusi berkedok salon dan ditempat itu mendapat perlakuan semena-mena karena bersaing mendapatkan pelanggan.
  8. Facebook dipakai untuk mengajak anak-anak bekerja di tempat lain.

Kekeraran dalam bentuk indikasi human trafficking pada tahun 2019 sangat tinggi. Usia korban paling tinggi pada usia 13-18 Tahun. Pendidikan korban dan pelaku rata-rata SMP dan SLTA. Profesi korban dan pelaku lebih banyak dari kalangan pelajar.

          Mari kita bersama-sama melindungi diri, keluarga, dan orang disekitar kita dari kejahatan Perdagangan Orang.

Bagikan Artikel ini

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Talitha Kum Indonesia, Komunitas Anti Human Trafficking, #DuniaBebasPedaganganOrang